
TL;DR
Jurnal akuntansi adalah catatan kronologis semua transaksi keuangan bisnis menggunakan sistem double-entry: setiap transaksi dicatat di dua sisi, debit dan kredit, dengan jumlah yang selalu seimbang. Langkah membuatnya: kumpulkan bukti transaksi, identifikasi akun yang terpengaruh, tentukan sisi debit dan kredit, lalu catat dengan format tanggal, nama akun, keterangan, dan jumlah.
Banyak pemilik usaha kecil menghindari akuntansi karena merasa konsepnya terlalu teknis. Padahal, kesalahan tidak mencatat keuangan bisnis secara terstruktur sering menjadi akar dari masalah yang lebih besar: tidak tahu posisi keuangan yang sebenarnya, kesulitan mengajukan kredit ke bank, atau kacau saat laporan pajak. Cara membuat jurnal akuntansi yang benar tidak harus rumit, dan artikel ini akan menunjukkan langkahnya dari awal.
Apa Itu Jurnal Akuntansi
Jurnal akuntansi adalah buku pencatatan kronologis semua transaksi keuangan perusahaan. Dalam akuntansi modern, jurnal umum (general journal) digunakan untuk mencatat setiap transaksi menggunakan sistem double-entry, yaitu setiap transaksi selalu memengaruhi minimal dua akun dengan jumlah debit yang selalu sama dengan jumlah kredit.
Sistem ini sudah dipakai sejak abad ke-15 dan menjadi standar akuntansi global karena memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kondisi keuangan dibanding pencatatan satu sisi yang hanya mencatat kas masuk dan kas keluar. Dengan jurnal yang benar, bisnis bisa melacak utang, piutang, aset, dan kewajiban sekaligus.
Konsep Dasar Debit dan Kredit
Sebelum mulai membuat jurnal, pahami dulu konsep debit dan kredit dalam akuntansi. Di sini, debit bukan berarti uang keluar dan kredit bukan berarti uang masuk seperti dalam perbankan sehari-hari. Maknanya berbeda.
Dalam akuntansi, setiap akun punya saldo normal:
- Aset (kas, piutang, peralatan, persediaan): saldo normal di debit. Bertambah jika didebit, berkurang jika dikredit.
- Kewajiban (utang usaha, utang bank): saldo normal di kredit. Bertambah jika dikredit, berkurang jika didebit.
- Modal/ekuitas: saldo normal di kredit. Bertambah jika dikredit, berkurang jika didebit.
- Pendapatan: saldo normal di kredit. Bertambah jika dikredit.
- Beban (biaya operasional, gaji, listrik): saldo normal di debit. Bertambah jika didebit.
Cara mudah mengingat ini: akun di sisi kiri neraca (aset) saldo normalnya di debit. Akun di sisi kanan neraca (kewajiban dan modal) saldo normalnya di kredit. Pendapatan menambah modal sehingga saldo normalnya juga kredit. Beban mengurangi modal sehingga saldo normalnya debit.
Format Jurnal Umum
Jurnal umum standar memiliki kolom-kolom berikut: tanggal, keterangan (nama akun dan deskripsi transaksi), referensi (nomor halaman buku besar), debit, dan kredit. Akun yang didebit selalu ditulis lebih dulu, lalu akun yang dikredit ditulis di bawahnya dengan sedikit indentasi atau keterangan “Kredit”.
Menurut Accurate.id, prinsip dasar yang tidak boleh dilanggar adalah: total debit harus selalu sama dengan total kredit dalam setiap ayat jurnal. Kalau kedua sisi tidak seimbang, ada kesalahan pencatatan yang perlu ditelusuri.
Baca juga: Arti Middle dalam Kerja: Posisi, Tugas, dan Jenjang Karir
Langkah-Langkah Cara Membuat Jurnal Akuntansi
- Kumpulkan bukti transaksi. Setiap transaksi yang dicatat di jurnal harus didukung dokumen: faktur, nota, kuitansi, bukti transfer bank, atau kontrak. Tanpa bukti transaksi, catatan akuntansi tidak bisa diverifikasi dan tidak sah secara hukum.
- Identifikasi transaksi yang terjadi. Tidak semua kejadian dalam bisnis adalah transaksi akuntansi. Hanya kejadian yang memengaruhi posisi keuangan bisnis yang perlu dicatat: penerimaan kas, pengeluaran kas, penjualan, pembelian barang, pembayaran utang, penerimaan piutang, dan sebagainya.
- Tentukan akun yang terpengaruh. Setiap transaksi memengaruhi minimal dua akun. Tanyakan: akun apa yang bertambah, dan akun apa yang berkurang? Misalnya, ketika membeli peralatan secara tunai, akun Peralatan bertambah dan akun Kas berkurang.
- Tentukan sisi debit dan kredit. Menggunakan aturan saldo normal yang sudah dijelaskan di atas: Peralatan adalah aset, bertambah di debit. Kas adalah aset, berkurang di kredit.
- Catat di jurnal dengan format yang benar. Tuliskan tanggal, nama akun debit, jumlah di kolom debit, kemudian akun kredit dengan jumlah di kolom kredit. Tambahkan keterangan singkat di bawah ayat jurnal.
- Verifikasi bahwa total debit sama dengan total kredit. Ini pemeriksaan terakhir sebelum melanjutkan ke transaksi berikutnya.
Contoh Transaksi dan Ayat Jurnalnya
Berikut beberapa contoh konkret untuk membantu memahami cara kerja jurnal akuntansi.
Transaksi 1: Pemilik menyetor modal awal
Budi mendirikan usaha baru dan menyetor Rp50.000.000 sebagai modal awal ke rekening bisnis. Akun yang terpengaruh: Kas bertambah (aset, debit), Modal Budi bertambah (ekuitas, kredit).
Ayat jurnal: Kas (D) Rp50.000.000 | Modal Budi (K) Rp50.000.000. Keterangan: Setoran modal awal.
Transaksi 2: Pembelian perlengkapan secara tunai
Budi membeli perlengkapan toko senilai Rp3.000.000 secara tunai. Akun yang terpengaruh: Perlengkapan bertambah (aset, debit), Kas berkurang (aset, kredit).
Ayat jurnal: Perlengkapan (D) Rp3.000.000 | Kas (K) Rp3.000.000. Keterangan: Pembelian perlengkapan toko tunai.
Transaksi 3: Penjualan jasa secara kredit
Budi memberikan jasa kepada pelanggan senilai Rp8.000.000 yang akan dibayar 30 hari kemudian. Akun yang terpengaruh: Piutang usaha bertambah (aset, debit), Pendapatan jasa bertambah (pendapatan, kredit).
Ayat jurnal: Piutang Usaha (D) Rp8.000.000 | Pendapatan Jasa (K) Rp8.000.000. Keterangan: Jasa kepada pelanggan, tagihan 30 hari.
Transaksi 4: Pembayaran beban sewa
Budi membayar sewa kantor Rp2.500.000 secara tunai. Akun yang terpengaruh: Beban Sewa bertambah (beban, debit), Kas berkurang (aset, kredit).
Ayat jurnal: Beban Sewa (D) Rp2.500.000 | Kas (K) Rp2.500.000. Keterangan: Pembayaran sewa kantor bulan April 2026.
Baca juga: SIPAFI Sendawar: Panduan Daftar dan Manfaatnya untuk Apoteker
Kesalahan Umum dalam Membuat Jurnal
Beberapa kesalahan yang sering terjadi saat membuat jurnal, terutama bagi pemula.
- Membalik posisi debit dan kredit. Ini yang paling umum. Kalau ragu, kembali ke aturan saldo normal: aset bertambah di debit, kewajiban dan modal bertambah di kredit.
- Mencatat transaksi tanpa bukti. Selain melemahkan validitas catatan, ini juga masalah saat pemeriksaan pajak. Biasakan selalu lampirkan atau simpan referensi dokumen untuk setiap ayat jurnal.
- Mencatat transaksi yang bukan urusan bisnis. Pengeluaran pribadi pemilik tidak boleh masuk jurnal bisnis. Kalau pemilik mengambil uang bisnis untuk keperluan pribadi, itu dicatat sebagai Prive (pengambilan modal), bukan beban operasional.
- Tidak mencatat secara rutin. Menumpuk transaksi untuk dicatat sebulan sekali meningkatkan risiko kelupaan dan kesalahan. Idealnya, transaksi dicatat setiap hari atau paling lambat setiap minggu.
Menurut panduan dari Gramedia Literasi, langkah selanjutnya setelah membuat jurnal umum adalah memindahkan setiap ayat jurnal ke buku besar (ledger), yaitu buku yang menampilkan riwayat lengkap setiap akun secara terpisah. Dari buku besar inilah neraca percobaan dan laporan keuangan bisa disusun.
Cara membuat jurnal akuntansi yang konsisten adalah salah satu kebiasaan paling berharga yang bisa dibangun seorang pengusaha. Bisnis yang punya catatan keuangan rapi punya fondasi yang jauh lebih kuat untuk mengambil keputusan, mengajukan pinjaman, atau menyambut investor dibandingkan yang mengandalkan intuisi dan catatan di kepala.
